aku duduk bersama Tuhan di beranda
ditemani nikotin dan kafein
duduk berdua seperti sahabat lama
"Tuhan", aku mencoba bersuara
"Dimanakah Kau saat aku bersuka?"
"Aku disana. diantara canda dan tawa" jawabnya
"Dimanakah Kau saat aku berduka?"
"Aku disana. Diantara tetesan air mata" katanya
"Tuhan, bolehkah aku melihat kitab jadwalmu, agar aku tau kapan lagi kita bertemu"
"Boleh saja. Tapi kamu harus ikut aku ke SURGA. karna aku meninggalkannya disana"
Tuhan selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan
Dan dia selalu punya alasan untuk setiap kejadian
Saat bulan tergantikan fajar, aku berpamitan tanpa bermaksud menghindar
Dan membuat janji untuk kembali bertemu,
dengan membawa nikotin dan kafein yang baru
19 April 2009
Mars dan Venus
aku turun ke bumi
untuk melihat Mars dan Venus bertemu
aku mencoba menjadi saksi
akan adanya tayangan semu
aku melihat Venus yang terlihat bodoh
menjual keindahan dengan harga murah
paha dan belahan dada yang mereka anggap aset
bagiku itu adalah hutang, bukan modal
yang harus mereka bayar ketika ajal
coba lihat Mars itu,
mencoba terlihat gagah dibawah atap harta
berusaha menjadi lucu padahal tak berilmu
dan tampil manis dengan gaya romantis
disini aku melihat harta dan belahan dada
menunggu untuk dijaja dengan berlabel harga
yang siap dibayar dengan nominal
meski itu jauh di luar akal
(tulisan anak jurusan ekonomi)
untuk melihat Mars dan Venus bertemu
aku mencoba menjadi saksi
akan adanya tayangan semu
aku melihat Venus yang terlihat bodoh
menjual keindahan dengan harga murah
paha dan belahan dada yang mereka anggap aset
bagiku itu adalah hutang, bukan modal
yang harus mereka bayar ketika ajal
coba lihat Mars itu,
mencoba terlihat gagah dibawah atap harta
berusaha menjadi lucu padahal tak berilmu
dan tampil manis dengan gaya romantis
disini aku melihat harta dan belahan dada
menunggu untuk dijaja dengan berlabel harga
yang siap dibayar dengan nominal
meski itu jauh di luar akal
(tulisan anak jurusan ekonomi)
ia melayang, tidak terbang
Situ Gintung, Oktober 17 2007
aku melihat matahari terbit dari barat
dan melihat bulan putih saat siang
aku menikmati hujan pada kemarau
dan menikmati gelap ketika fajar
seorang Tuan berjalan di atas udara
gagah meski kadang tertatih
tampak wajah pucat dan berkeringat
Tuan itu melayang
tidak terbang, hanya melayang
ia duduk, masih tetap melayang
lalu berbaring, dan tetap melayang
aku melihat matahari yang belum terbenam
si Tuan berjalan menghampiri
Lirih ia berkata,
"Kamu tidak sendirian melihat keanehan
karena kita berada di dunia yang tidak biasa"
lalu aku berjalan menjauh dari si Tuan
aku berjalan di atas udara
Dan aku melayang
aku melihat matahari terbit dari barat
dan melihat bulan putih saat siang
aku menikmati hujan pada kemarau
dan menikmati gelap ketika fajar
seorang Tuan berjalan di atas udara
gagah meski kadang tertatih
tampak wajah pucat dan berkeringat
Tuan itu melayang
tidak terbang, hanya melayang
ia duduk, masih tetap melayang
lalu berbaring, dan tetap melayang
aku melihat matahari yang belum terbenam
si Tuan berjalan menghampiri
Lirih ia berkata,
"Kamu tidak sendirian melihat keanehan
karena kita berada di dunia yang tidak biasa"
lalu aku berjalan menjauh dari si Tuan
aku berjalan di atas udara
Dan aku melayang
17 April 2009
bersama Tuan itu aku menunggu
Sayap sebelahku masih terkulai lemah
Tak mampu lagi mengajakku terbang, meski rendah
Malam lalu, aku dihadapan sayap sebelahku yang patah
Warnanya tidak lagi kuning emas bercahaya
Kusam berdebu tak berfungsi
Aku marah
tak mampu lagi terbang, meski rendah
Aku marah
tak mampu menemuinya, meski sebentar
Tak adakah toko penjual sayap...atau toko penyewaan sayap?
Aku hanya butuh beberapa jam saja
Aku butuh terbang, menguasai angkasa
Aku butuh terbang, menghampiri peri gertikali
Ibu,
Dimana kamu?
Ayah,
Dimana kamu?
Mengapa hanya ada Tuan itu yang menemukanku?
Mengapa hanya ada Tuan itu yang merawat sayap sebelahku?
Mengapa hanya ada Tuan itu yang menghapus air mata di hatiku?
Ibu,
Dimana kamu?
Ayah,
Dimana kamu?
Disini aku rindu. Bersama Tuan itu aku menunggu
Tak mampu lagi mengajakku terbang, meski rendah
Malam lalu, aku dihadapan sayap sebelahku yang patah
Warnanya tidak lagi kuning emas bercahaya
Kusam berdebu tak berfungsi
Aku marah
tak mampu lagi terbang, meski rendah
Aku marah
tak mampu menemuinya, meski sebentar
Tak adakah toko penjual sayap...atau toko penyewaan sayap?
Aku hanya butuh beberapa jam saja
Aku butuh terbang, menguasai angkasa
Aku butuh terbang, menghampiri peri gertikali
Ibu,
Dimana kamu?
Ayah,
Dimana kamu?
Mengapa hanya ada Tuan itu yang menemukanku?
Mengapa hanya ada Tuan itu yang merawat sayap sebelahku?
Mengapa hanya ada Tuan itu yang menghapus air mata di hatiku?
Ibu,
Dimana kamu?
Ayah,
Dimana kamu?
Disini aku rindu. Bersama Tuan itu aku menunggu
07 April 2009
Menyaksikan Tiap Patahan Sayap
Indah kerlip bintang menemani
Merdu lantunan biduan mengiringi
Menanti pijaran fajar sambut hari
Tersenyum mengawali hangat hati bidadari
Gadis hati enggan keluar dari ruangan nyaman
hadapi warna taman yang tampak seperti hijau
kaki ingin beranjak
walau pikir enggan keluar berpijak
Hingar bingar tak kuasa dilawan
Langit gelap terbentang di hadapan
Mencoba menanti jawaban
Menunggu kedatangan lelaki tampan yang menggandeng erat pegangan
Di pojok toko roti,
gadis kecil itu tersuruk menyaksikan tiap patahan sayapnya
Merdu lantunan biduan mengiringi
Menanti pijaran fajar sambut hari
Tersenyum mengawali hangat hati bidadari
Gadis hati enggan keluar dari ruangan nyaman
hadapi warna taman yang tampak seperti hijau
kaki ingin beranjak
walau pikir enggan keluar berpijak
Hingar bingar tak kuasa dilawan
Langit gelap terbentang di hadapan
Mencoba menanti jawaban
Menunggu kedatangan lelaki tampan yang menggandeng erat pegangan
Di pojok toko roti,
gadis kecil itu tersuruk menyaksikan tiap patahan sayapnya
merindu
Sedang berdiam diri menikmati Rio febrian yg nemenin. Dia bilang KU ADA DISINI. Tapi aku butuh abangku yg bilang “Ber, abang ada disini”
Masih ga tau dia ada dimana. Apakah ini akhir yg harus aku terima? Seperti ini? Tanpa kata-kata? tanpa air mata?
Tapi mengapa ini jauh lebih menyakitkan?
Bahkan kilau botaknya si junior pun tidak mampu menghapus rasa rinduku pada Abang. Bahkan senyum Ardi tidak bisa menggantikan apa yg kumau dari Abang.
Aku terjebak dalam labirin yg tidak ku temui ujungnya. Aku terperangkap dalam labirin hidupnya. Dan inilah yg kuhadapi sekarang. Bahkan untuk kembali lewat jalan pertama aku masuk saja aku sudah tidak bisa. Dimana sekarang aku dalam hatinya? Masih ditempat yang sama kah? Atau kini sudah tidak ada lagi harapan untukku, dan dengan nya?
I cant take my eyes of u kalo katanya Damien Rice.
Masih ga tau dia ada dimana. Apakah ini akhir yg harus aku terima? Seperti ini? Tanpa kata-kata? tanpa air mata?
Tapi mengapa ini jauh lebih menyakitkan?
Bahkan kilau botaknya si junior pun tidak mampu menghapus rasa rinduku pada Abang. Bahkan senyum Ardi tidak bisa menggantikan apa yg kumau dari Abang.
Aku terjebak dalam labirin yg tidak ku temui ujungnya. Aku terperangkap dalam labirin hidupnya. Dan inilah yg kuhadapi sekarang. Bahkan untuk kembali lewat jalan pertama aku masuk saja aku sudah tidak bisa. Dimana sekarang aku dalam hatinya? Masih ditempat yang sama kah? Atau kini sudah tidak ada lagi harapan untukku, dan dengan nya?
I cant take my eyes of u kalo katanya Damien Rice.
Membawa sayap sebelahku
Aku menemukan dia di ujung toko roti
Tubuhnya terbujur, tergeletak dalam posisi tidur pulas
Gadis itu bergerak
Saat aku merapatkan tubuh padanya
"mengapa masih saja kau berada disini", ia berkata
"waktu yang ku punya tak tersisa. Tubuh renta, tak bertenaga.
Sayapku tinggal sebelah. Aku berjaga disini. Akan kuberikan sayapku yang sebelah,
agar saatnya tiba kau akan terbang kesana. Membawa sayap sebelahku untuk mencari matahari"
Tubuhnya terbujur, tergeletak dalam posisi tidur pulas
Gadis itu bergerak
Saat aku merapatkan tubuh padanya
"mengapa masih saja kau berada disini", ia berkata
"waktu yang ku punya tak tersisa. Tubuh renta, tak bertenaga.
Sayapku tinggal sebelah. Aku berjaga disini. Akan kuberikan sayapku yang sebelah,
agar saatnya tiba kau akan terbang kesana. Membawa sayap sebelahku untuk mencari matahari"
22 March 2009
Untuk Kaka Opie dan Abeng
melihat senyuman anak ibu, membuat semua duka hilang
annabell dan sophiena merupakan buah hati yg tidak tergantikan.
kelakuan mereka yg setiap hari membuat ibu dan ayah tertawa, menjadi bagian sehari-hari
Abel dan kaka opie menjadikan semua yg ada dirumah menjadi tersenyum
kelakuan nakal dan celoteh jail mereka tidak menjadikan segalanya sebuah hal besar
Ibu rindu utk memeluk kalian berdua setiap hari
Doa Ayah dan Ibu akan menyertai kalian berdua, nak
Jadilah anak-anak yg membuat ayah dan ibu bangga
Dan cerialah selalu, dengan apa yg ada didalam hidup kalian
Love both of You
Ibu
annabell dan sophiena merupakan buah hati yg tidak tergantikan.
kelakuan mereka yg setiap hari membuat ibu dan ayah tertawa, menjadi bagian sehari-hari
Abel dan kaka opie menjadikan semua yg ada dirumah menjadi tersenyum
kelakuan nakal dan celoteh jail mereka tidak menjadikan segalanya sebuah hal besar
Ibu rindu utk memeluk kalian berdua setiap hari
Doa Ayah dan Ibu akan menyertai kalian berdua, nak
Jadilah anak-anak yg membuat ayah dan ibu bangga
Dan cerialah selalu, dengan apa yg ada didalam hidup kalian
Love both of You
Ibu
12 March 2009
kejujuran
gw belajar satu hal dari adek gw, si Jendral.
Dia nyoba bertaruh pada dirinya, dengan gw jadi saksi...
isi taruhannya "Kalo dia dalam 1 bulan (21 Feb-21 Mar) memilih online, dia harus beliin gw sepatu (dengan harga Tanah Abang)"
Tadinya gw pikir dia ga mungkin berhasil. karna gw tau banget, adek gw lagi gila2nya ceting... gila2nya buka facebook, friendster, mig33....
tapi, seiring berjalannya waktu, masih aja keukeh ma taruhannya. Mungkin dia males ngeluarin duit juga buat beliin duit. Tapi, mengingat harga sepatu Tanah Abang ga mahal2 amat, adek gw yang gajinya lumayan banget pasti ga akan keberatan beliin gw sepatu, apalagi gw sekarang udah jobless...
Awalnya gw bingung sama keputusan adek gw yang mempercayakan gw untuk menjadi saksi dia. Gw sama dia kan jarang ketemu di rumah, apalagi posisi dia yg tinggal di asrama. Jadi gw ga mungkin ngontrol HP nya dia di pake Online atau ngga.
2 Hari lalu, adek gw sms. Ternyata dia gagal dengan taruhannya sendiri. Dia akan beliin gw sepatu tgl 20 nanti.
Yang gw dapet dari adek gw, ternyata dia berani jujur sama gw, meski gw kan ga tau dia online atau tidak. Lagian dia juga ga perlu ngasih tau gw, jadi dia terbebas dari harus ngebeliin gw sepatu baru.
Mungkin buat adek gw, jujur pada dirinya sendiri jauh lebih baik, dibanding musti boong sama gw.
sore tadi, temen gw nanya "kenapa sih seseorang harus selingkuh"
Gw jawab, mungkin karna orang tersebut udah ngerasa ga nyaman dengan hubungan yang ada. Trus dia bilang, kenapa ga jujur aja daripada harus selingkuh dibelakang.
Dan gw bilang, mungkin karna dengan berbohong itu bikin orang tersebut lebih nyaman.
Gw sendiri sih ga yakin kenapa alasan orang berselingkuh, tapi yg gw pengen pertanyakan, kenapa orang2 yang selingkuh tidak pernah bisa berkata jujur terhap pasangannya?
Kalo gw sendiri yah, gw senang utk bilang jujur, meski itu terdengar menyakitkan. kadang temen2 gw sakit hati dengan sikap gw, tapi gw kan ga peduli dengan pendapat orang ya.
Gw selalu jujur lho sama lelaki gw itu. Sampe sekecil apa pun gw ceritain. Gw juga cerita lho soal gw lagi naksir siapa, gw deket sama cowok yang mana, cowo2 mana aja yg lagi deketin gw, yg nembak gw. Dan itu bukan masalah buat lelaki gw itu. Dia nerima aja penjelasan gw. Karna buat kami berdua, lebih baik utk bicara langsung, daripada harus denger dari orang lain.
Tapi gw ga cerita kalo gw ciuman sama cowo laen...hahahaha (tapi setelah ini dia juga pasti tau) hehehehe...
Bisa jujur itu menyenangkan lho, terutama utk diri sendiri. Kayak ada kebanggaan gitu deh.
Seperti yg adek gw lakuin. Coba, buat apa dia jujur ngasih tau dia online, kalo ga utk dirinya sendiri. Jauh2 dulu deh ngomongin dosa, ini bukan urusan dengan dosa. Tapi lebih pada bagaimana kita bertanggung jawab atas apa yang kita tau, kita lakukan, kita dengar, kita lihat. Ya Kan???
Jadi, dari pada berbohong, mendingan jujur kan????
Dia nyoba bertaruh pada dirinya, dengan gw jadi saksi...
isi taruhannya "Kalo dia dalam 1 bulan (21 Feb-21 Mar) memilih online, dia harus beliin gw sepatu (dengan harga Tanah Abang)"
Tadinya gw pikir dia ga mungkin berhasil. karna gw tau banget, adek gw lagi gila2nya ceting... gila2nya buka facebook, friendster, mig33....
tapi, seiring berjalannya waktu, masih aja keukeh ma taruhannya. Mungkin dia males ngeluarin duit juga buat beliin duit. Tapi, mengingat harga sepatu Tanah Abang ga mahal2 amat, adek gw yang gajinya lumayan banget pasti ga akan keberatan beliin gw sepatu, apalagi gw sekarang udah jobless...
Awalnya gw bingung sama keputusan adek gw yang mempercayakan gw untuk menjadi saksi dia. Gw sama dia kan jarang ketemu di rumah, apalagi posisi dia yg tinggal di asrama. Jadi gw ga mungkin ngontrol HP nya dia di pake Online atau ngga.
2 Hari lalu, adek gw sms. Ternyata dia gagal dengan taruhannya sendiri. Dia akan beliin gw sepatu tgl 20 nanti.
Yang gw dapet dari adek gw, ternyata dia berani jujur sama gw, meski gw kan ga tau dia online atau tidak. Lagian dia juga ga perlu ngasih tau gw, jadi dia terbebas dari harus ngebeliin gw sepatu baru.
Mungkin buat adek gw, jujur pada dirinya sendiri jauh lebih baik, dibanding musti boong sama gw.
sore tadi, temen gw nanya "kenapa sih seseorang harus selingkuh"
Gw jawab, mungkin karna orang tersebut udah ngerasa ga nyaman dengan hubungan yang ada. Trus dia bilang, kenapa ga jujur aja daripada harus selingkuh dibelakang.
Dan gw bilang, mungkin karna dengan berbohong itu bikin orang tersebut lebih nyaman.
Gw sendiri sih ga yakin kenapa alasan orang berselingkuh, tapi yg gw pengen pertanyakan, kenapa orang2 yang selingkuh tidak pernah bisa berkata jujur terhap pasangannya?
Kalo gw sendiri yah, gw senang utk bilang jujur, meski itu terdengar menyakitkan. kadang temen2 gw sakit hati dengan sikap gw, tapi gw kan ga peduli dengan pendapat orang ya.
Gw selalu jujur lho sama lelaki gw itu. Sampe sekecil apa pun gw ceritain. Gw juga cerita lho soal gw lagi naksir siapa, gw deket sama cowok yang mana, cowo2 mana aja yg lagi deketin gw, yg nembak gw. Dan itu bukan masalah buat lelaki gw itu. Dia nerima aja penjelasan gw. Karna buat kami berdua, lebih baik utk bicara langsung, daripada harus denger dari orang lain.
Tapi gw ga cerita kalo gw ciuman sama cowo laen...hahahaha (tapi setelah ini dia juga pasti tau) hehehehe...
Bisa jujur itu menyenangkan lho, terutama utk diri sendiri. Kayak ada kebanggaan gitu deh.
Seperti yg adek gw lakuin. Coba, buat apa dia jujur ngasih tau dia online, kalo ga utk dirinya sendiri. Jauh2 dulu deh ngomongin dosa, ini bukan urusan dengan dosa. Tapi lebih pada bagaimana kita bertanggung jawab atas apa yang kita tau, kita lakukan, kita dengar, kita lihat. Ya Kan???
Jadi, dari pada berbohong, mendingan jujur kan????
02 February 2009
Tuhan tau aku mau, tapi Tuhan juga tau aku tidak mampu
siang tadi, terjadi perbincangan antara aku dan Mama.
26 January 2009
pergi menangis sendiri

hari itu, berbelit rasa yg ada. saya keliru menilai sebuah arti nyata.
agak sunyi memang hari itu.
hanya ada saya dan sebungkus rokok, serta arpus si idaman hati
Jadi,
malam itu saya pergi. keluar rumah untuk menentramkan hati.
bersama arpus yg berlari 45 km/jam
sekeliling saya ramai. tapi saya justru tetap merasa sendiri
arpus berbelok, mencari jalanan kosong
dia tau saya butuh sendiri
begitu arpus menepi, air mata saya turun. dan saya menangis ditemani arpus.
apa yg menjadi kegelisahanku ini mungkin terlihat dan terdengar biasa utk orang lain. tapi aku merasa itu begitu berat untukku
Matahari mulai menampakkan jejaknya
tanda pagi kembali datang
dan saya kembali ke rumah dengan mata sembab
tidak lagi terikat beban
pergi menangis sendiri ternyata obat mujarab utk mengobati sakitnya hati
22 January 2009
Maafkan aku, Mam
Rabu, januari 22
Seandainya lian tau sedari dini, bahwa menjadi anak mama akan serumit ini, mungkin aku akan memilih menjadi anak orang lain
Menjadi anak yg tidak dapat dibanggakan, tidak mengikuti keinginannya, ternyata menyakitkan.
Tapi entah mengapa, keinginan sederhana mama, justru menyakitkan untukku.
Tidak bisa memenuhi keinginannya utk memberikan ia menantu
Tidak juga bisa memenuhi keinginannya utk menjadi pegawai negri sipil
Adalah beberapa keinginan mama, yang sulit kupenuhi
Mama,
Ini bukan karna aku tidak ingin menikah. Tapi ini karna lelaki pilihanku telah menjadi milik orang lain. Dan aku telah lebih dahulu menikahi hatinya, meski tanpa surat resmi dari pemerintah. Tapi aku punya kuasa untuk mengakui dia suami untuk hatiku. Dan aku tidak mungkin menikahi laki-laki lain, karena hatiku harus diceraikan olehnya lebih dahulu. Dan yang aku tau, ia tidak akan pernah menceraikan hatiku. Dan aku hanya menginginkan dia, Mam. Bukan laki-laki lain…
Ini juga bukan karna aku tidak ingin menjadi PNS. Tapi karena aku tidak ingin terus menjadi bayang-bayang ayahku, Mam. Aku tidak mau menikmati kemudahan yang ayahku berikan, dengan berada dibalik bayangannya. Aku hanya ingin menjadi aku, Mam.
Aku ingin membanggakanmu, Mam. Tapi bukan dengan memenuhi impianmu. Tapi menjadi diriku sendiri. Menjadi seperti yang aku inginkan. Egoiskah aku, Mam? Salahkah ini, bila bukan seperti kehendakmu yang kuinginkan?
Mama,
Menyakitkan mungkin utk tidak memenuhi keinginanmu. Tapi akan lebih menyakitkan jika semua itu kulakukan. Jangan salahkan dirimu yang mungkin salah mendidikku. Jangan salahkan ayahku yang mungkin memaksakan keinginan yang sama denganmu. Jangan juga salahkan Tuhan yang tidak membuat aku jadi lebih penurut.
Salahkan aku, Mam. Salahkan aku yg memiliki keinginan ini. Keinginan utk tidak menuruti keinginanmu.
Maafkan aku Mam… jika tidak lagi menjadi anak kebanggaanmu, seperti dulu.
Seandainya lian tau sedari dini, bahwa menjadi anak mama akan serumit ini, mungkin aku akan memilih menjadi anak orang lain
Menjadi anak yg tidak dapat dibanggakan, tidak mengikuti keinginannya, ternyata menyakitkan.
Tapi entah mengapa, keinginan sederhana mama, justru menyakitkan untukku.
Tidak bisa memenuhi keinginannya utk memberikan ia menantu
Tidak juga bisa memenuhi keinginannya utk menjadi pegawai negri sipil
Adalah beberapa keinginan mama, yang sulit kupenuhi
Mama,
Ini bukan karna aku tidak ingin menikah. Tapi ini karna lelaki pilihanku telah menjadi milik orang lain. Dan aku telah lebih dahulu menikahi hatinya, meski tanpa surat resmi dari pemerintah. Tapi aku punya kuasa untuk mengakui dia suami untuk hatiku. Dan aku tidak mungkin menikahi laki-laki lain, karena hatiku harus diceraikan olehnya lebih dahulu. Dan yang aku tau, ia tidak akan pernah menceraikan hatiku. Dan aku hanya menginginkan dia, Mam. Bukan laki-laki lain…
Ini juga bukan karna aku tidak ingin menjadi PNS. Tapi karena aku tidak ingin terus menjadi bayang-bayang ayahku, Mam. Aku tidak mau menikmati kemudahan yang ayahku berikan, dengan berada dibalik bayangannya. Aku hanya ingin menjadi aku, Mam.
Aku ingin membanggakanmu, Mam. Tapi bukan dengan memenuhi impianmu. Tapi menjadi diriku sendiri. Menjadi seperti yang aku inginkan. Egoiskah aku, Mam? Salahkah ini, bila bukan seperti kehendakmu yang kuinginkan?
Mama,
Menyakitkan mungkin utk tidak memenuhi keinginanmu. Tapi akan lebih menyakitkan jika semua itu kulakukan. Jangan salahkan dirimu yang mungkin salah mendidikku. Jangan salahkan ayahku yang mungkin memaksakan keinginan yang sama denganmu. Jangan juga salahkan Tuhan yang tidak membuat aku jadi lebih penurut.
Salahkan aku, Mam. Salahkan aku yg memiliki keinginan ini. Keinginan utk tidak menuruti keinginanmu.
Maafkan aku Mam… jika tidak lagi menjadi anak kebanggaanmu, seperti dulu.
17 January 2009
mencari matahari - part 1
Tuhan memilihkan waktu yang tepat, untuk mereka yang meminta dengan sepenuh hati
Tuhan tidak pernah tinggal diam. Dan Ia tidak tidur dalam seperdetik pun
Tuhan juga tidak tuli. Dan Ia memberi pengertian kepada mereka yang menginginkan
Separuh jalan Angkasa sudah dilewati Kamir tetapi ia masih saja belum puas dengan apa yang ia cari. Padahal Jalan Angkasa tidaklah pendek, sekitar 12 km panjangnya. Kamir berhenti di sudut jalan, meminggirkan Supranya dan ia turun. Duduk di pinggiran trotoar. Beberapa kendaraan lewat, tidak memerdulikan Kamir yang berhenti di sudut jalan. Jam sudah menunjukkan jam 2 dini hari. Getar handphone dari dalam tas pinggang Kamir bergetar. Saphire calling demikian yang tertulis di layar, kemudian diangkatnya.
“Dul, where are you’ve been now?”Saphire membuka percakapan
“I’m not ready to talk with you right now, Sunset. I told you to give me a time. Not tonight ya” ujar Kamir dengan enggan.
“But when?? Kapan, Dul? Just tell me. So I’m ready if there no more time for waiting”
“I don’t know dear. Just give me time to breath. To have fresh air. To make myself know what should I do. Ok. Sleep now. You have to go work tomorrow. Make your time useful. Then you’ll forget all of this” Kamir mencoba mengakhiri percakapannya. Dia tidak ingin ada orang yang mengganggunya, mencuri waktunya kali ini, meski itu seorang Saphire sekalipun.
“Kamirez, take care of yourself. If you need something just call me. I’ll always be whenever you need” Saphire tahu telah tiba saatnya dia harus mengalah dan berhenti.
“Ya, my Sunset. I know you’ll always be anytime. But I need time for myself. Aku udah jelasin kan seminggu lalu maksud dan niatku. Ini mungkin untuk sementara, tapi mungkin juga untuk selamanya. Jangan buang waktumu hanya mengasihani aku”
“Jangan terlalu lama mencari Matahari, Sayang. Kalaupun sudah menemukannya, jangan terlalu dekat padanya. Nanti kulitmu itu bisa legam kayak aku” Saphire mencoba bercanda.
“Udah tidur sana. It’s time for beauty to sleep. Nice sleep, Sunset”
Klik. Telfon pun dimatikan Kamir.
Sudah tiga hari Kamirez meninggalkan rutinitas sehari-harinya. Mau semedi demikian penjelasannya saat meminta cuti dari kantornya. Rutinitas menyenangkan menurut orang-orang. Pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya dulu. Tapi justru rutinitas itu yang menyita waktunya untuk menemukan Matahari dalam hidupnya. Ini bukan hanya sekedar wanita pendamping, Kamir bahkan sudah memiliki Saphire, wanita yang menghujaninya dengan cinta, perhatian, dan ilmu. Tapi Saphire hanyalah pendamping setia, yang ia butuhkan justru rekan, bukan hanya pelengkap. Bukan hanya ibarat sekeping puzzle yg bisa membuat sebuah gambar menjadi sempurna. Bukan, bukan itu. Sesuatu yang lebih daripada itu.
03.25 pagi sudah jam di handphone tertulis. Kamir bergerak naik ke motornya.
“Apa yang kamu cari, Nak Kamir? Kamu sudah lima hari menginap disini, tetapi tetap saja tidak ada sesuatu yang bisa membuat raut wajahmu itu tampak lebih normal” Tuan Musi mendadak membuka suara.
Sedari tadi Kamir sengaja duduk di sudut café, menghindari bertatap mata dengan orang lain. Ya, memang sudah lima hari dia menginap di penginapan Musi, penginapan kecil milik keluarga Musika Agung. Sebetulnya penginapan itu tempat kos mahasiswa, tapi itu hanya untuk tingkat satu dan tingkat dua nya saja. Sedangkan untuk lantai dasarnya memang sengaja disewakan untuk orang-orang yang berkunjung ke Jogja. Biasanya yang datang menginap keluarga-keluarga dari mahasiswa baru, yang masih mau menemani anak, adik, kakak, atau sepupu mereka, yang akan masuk ke Universitas di ujung Jalan Angkasa.
“Nak Kamir…”panggil Tuan Musi, mencoba berbicara pada Kamir, bekas anak kosnya dulu.
Kamir tersenyum, mencoba bergurau “Ah rupanya kehadiran raut wajah tidak normal saya membuat Rama bosan juga ya?”
“Dul, saya bukan baru lima hari ini saja mengenal kamu. Sejak hari pertama kamu jadi mahasiswa Arsitektur, sampai gelar sarjana kau sandang, saya tahu kamu nak. Jadi ada apa? Coba kasih tahu Rama’mu ini ada apa dengan raut tidak normalmu ini” Tuan Musi melototkan matanya seolah marah.
“Rama sudah seperti Bapak dirumah saja. Melotot kalau kesal. I’m fine Rama. I just need fresh air for myself. That’s all” jelas Kamir menggantung.
“Ok. Terserah kamu kalau seperti itu. Tapi jangan coba bunuh diri di tempat saya ya. Musika Agung tidak mau terlibat untuk pencarianmu terhadap udara segar itu” ujar Tuan Musi sambil membuat tanda petik dengan dua jari telunjuk dan jari tengahnya saat berkata udara segar. Kemudian berdiri meninggalkan Kamir, dan menepuk punggungnya lembut “I always there whenever you need, anak muda” Tuan Musi menambahkan.
Kamir menatap punggung Tuan Musi.
Tuhan tidak pernah tinggal diam. Dan Ia tidak tidur dalam seperdetik pun
Tuhan juga tidak tuli. Dan Ia memberi pengertian kepada mereka yang menginginkan
Separuh jalan Angkasa sudah dilewati Kamir tetapi ia masih saja belum puas dengan apa yang ia cari. Padahal Jalan Angkasa tidaklah pendek, sekitar 12 km panjangnya. Kamir berhenti di sudut jalan, meminggirkan Supranya dan ia turun. Duduk di pinggiran trotoar. Beberapa kendaraan lewat, tidak memerdulikan Kamir yang berhenti di sudut jalan. Jam sudah menunjukkan jam 2 dini hari. Getar handphone dari dalam tas pinggang Kamir bergetar. Saphire calling demikian yang tertulis di layar, kemudian diangkatnya.
“Dul, where are you’ve been now?”Saphire membuka percakapan
“I’m not ready to talk with you right now, Sunset. I told you to give me a time. Not tonight ya” ujar Kamir dengan enggan.
“But when?? Kapan, Dul? Just tell me. So I’m ready if there no more time for waiting”
“I don’t know dear. Just give me time to breath. To have fresh air. To make myself know what should I do. Ok. Sleep now. You have to go work tomorrow. Make your time useful. Then you’ll forget all of this” Kamir mencoba mengakhiri percakapannya. Dia tidak ingin ada orang yang mengganggunya, mencuri waktunya kali ini, meski itu seorang Saphire sekalipun.
“Kamirez, take care of yourself. If you need something just call me. I’ll always be whenever you need” Saphire tahu telah tiba saatnya dia harus mengalah dan berhenti.
“Ya, my Sunset. I know you’ll always be anytime. But I need time for myself. Aku udah jelasin kan seminggu lalu maksud dan niatku. Ini mungkin untuk sementara, tapi mungkin juga untuk selamanya. Jangan buang waktumu hanya mengasihani aku”
“Jangan terlalu lama mencari Matahari, Sayang. Kalaupun sudah menemukannya, jangan terlalu dekat padanya. Nanti kulitmu itu bisa legam kayak aku” Saphire mencoba bercanda.
“Udah tidur sana. It’s time for beauty to sleep. Nice sleep, Sunset”
Klik. Telfon pun dimatikan Kamir.
Sudah tiga hari Kamirez meninggalkan rutinitas sehari-harinya. Mau semedi demikian penjelasannya saat meminta cuti dari kantornya. Rutinitas menyenangkan menurut orang-orang. Pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya dulu. Tapi justru rutinitas itu yang menyita waktunya untuk menemukan Matahari dalam hidupnya. Ini bukan hanya sekedar wanita pendamping, Kamir bahkan sudah memiliki Saphire, wanita yang menghujaninya dengan cinta, perhatian, dan ilmu. Tapi Saphire hanyalah pendamping setia, yang ia butuhkan justru rekan, bukan hanya pelengkap. Bukan hanya ibarat sekeping puzzle yg bisa membuat sebuah gambar menjadi sempurna. Bukan, bukan itu. Sesuatu yang lebih daripada itu.
03.25 pagi sudah jam di handphone tertulis. Kamir bergerak naik ke motornya.
“Apa yang kamu cari, Nak Kamir? Kamu sudah lima hari menginap disini, tetapi tetap saja tidak ada sesuatu yang bisa membuat raut wajahmu itu tampak lebih normal” Tuan Musi mendadak membuka suara.
Sedari tadi Kamir sengaja duduk di sudut café, menghindari bertatap mata dengan orang lain. Ya, memang sudah lima hari dia menginap di penginapan Musi, penginapan kecil milik keluarga Musika Agung. Sebetulnya penginapan itu tempat kos mahasiswa, tapi itu hanya untuk tingkat satu dan tingkat dua nya saja. Sedangkan untuk lantai dasarnya memang sengaja disewakan untuk orang-orang yang berkunjung ke Jogja. Biasanya yang datang menginap keluarga-keluarga dari mahasiswa baru, yang masih mau menemani anak, adik, kakak, atau sepupu mereka, yang akan masuk ke Universitas di ujung Jalan Angkasa.
“Nak Kamir…”panggil Tuan Musi, mencoba berbicara pada Kamir, bekas anak kosnya dulu.
Kamir tersenyum, mencoba bergurau “Ah rupanya kehadiran raut wajah tidak normal saya membuat Rama bosan juga ya?”
“Dul, saya bukan baru lima hari ini saja mengenal kamu. Sejak hari pertama kamu jadi mahasiswa Arsitektur, sampai gelar sarjana kau sandang, saya tahu kamu nak. Jadi ada apa? Coba kasih tahu Rama’mu ini ada apa dengan raut tidak normalmu ini” Tuan Musi melototkan matanya seolah marah.
“Rama sudah seperti Bapak dirumah saja. Melotot kalau kesal. I’m fine Rama. I just need fresh air for myself. That’s all” jelas Kamir menggantung.
“Ok. Terserah kamu kalau seperti itu. Tapi jangan coba bunuh diri di tempat saya ya. Musika Agung tidak mau terlibat untuk pencarianmu terhadap udara segar itu” ujar Tuan Musi sambil membuat tanda petik dengan dua jari telunjuk dan jari tengahnya saat berkata udara segar. Kemudian berdiri meninggalkan Kamir, dan menepuk punggungnya lembut “I always there whenever you need, anak muda” Tuan Musi menambahkan.
Kamir menatap punggung Tuan Musi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
